Karena Mungkin Kita dan Adik-adik Kita Hidup di Zaman Sekarang

1 Oct 2013

Entah sebenarnya saya sendiri tak tahu dapat ide judul itu darimana, tiba-tiba muncul dari kepala begitu saja. Benar atau tidak, saat ini saya akui sedang mengeluh dengan kondisi sekarang yang mungkin cukup disesalkan juga sama orang tua kita. Zaman sekarang yang semuanya serba lebih mudah. Gak usah pada waktu zaman kemerdekaan deh ambil saja 50 tahun yang lalu. Semuanya serba cukup rekoso (Red: bahasa jawa=susah). Meski sudah merdeka tetap saja hidup penuh juang. Menurut cerita nenek saya waktu itu ketika masih ada, beliau yang harus makan nasi sembunyi-sembunyi, gak jelas detail alasannya kenapa. Karena mungkin saat saya mendapat cerita tersebut gak begitu peduli tentang cerita nenek, yang saat itu saya masih berumur 9 tahun. Dan sekarang cerita masa lalu tersebut dilanjutkan oleh ibu saya. “Nang, mbiyen bapakmu ki loh pengen tuku hape tapi rak keturutan kerono regone rak cucuk karo gajine sampe saiki wes rak ono, dadi saiki kuwe kudu luweh bersyukur” (Nak, dulu bapakmu ingin sekali beli hp tapi gak kesampaian karena harga hp waktu itu tak sesuai dengan gaji yang diterimanya sampai beliau sudah tiada, jadi harusnya kamu bisa lebih bersyukur). Dengan sambil menitihkan air mata beliau bercerita demikian, entah maksudnya seperti apa beliau bercerita seperti ini. Saya yang waktu itu baru saja masuk rumah, pulang dari semarang terperanga melihat tiba-tiba ibu bercerita demikian dan dalam waktu bersamaan terdengar suara tangisan dari dalam kamar, itu adalah suara adik saya. Ah sudahlah, saya yang tahu kondisi saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk tanya ini itu, jadi pilihan yang tepat adalah diam.

Ketika semua terlihat lebih tenang baru ibu bercerita kalau adik saya meminta dibelikan hp baru. Padahal hp yang lama masih sekitar 3 bulan yang lalu dibeli dan masih bagus serta berjalan normal. Adik saya cewek, anak terakhir. Entah kenapa saya selalu berfikir anak pertama dan terakhir terasa lebih ’spesial’. Spesial bukan karena dimanja atau gimana, orang tua saya juga tak pernah memanjakan anak-anaknya ini malah adik saya merasa termanjakan sendiri. Suka ngambekan, dan pendiam. Namun kalau minta sesuatu harus dituruti, mintanya gak maksa sih, tapi dia tak akan mau nglakuin apa-apa dan lebih memilih bersemedi didalam kamar. Jadi saat seperti inilah orang tua berperan. -__-

Beberapa bulan sebelumnya juga ada kejadian tentang adik saya lagi, waktu itu adik saya pinjam laptop saya yang mau dibuat facebookan. Saya cukup senang karena dia akhirnya mau mengikuti perkembangan sekarang, karena sebelumnya dia sama sekali tak mau menyentuh apa yang namanya komputer. Semenjak ada Facebook sepertinya membantu, *pikir saya waktu itu*. Meskipun buat main-main tak apa yang penting dia mau tahu dan nantinya dia sendiri akan mau mencari tahu apa yang ingin dia tahu, itu saja dulu.Karena seusia adik saya, waktu dulu saya belum pernah mengenal apa itu komputer, harusnya adik saya bersyukur, iya harusnya.

Setelah selesai menggunakannya, dia lalu memberikan kembali laptop itu kepada saya. Karena saya sudah merasa tak ingin menggunakannya lagi saya suruh saja mematikannya, eh dia gak mau mematikannya. Loh kenapa? saya cukup terkejut ternyata dia tak tahu bagaimana cara mematikan laptopnya #dyarr. Nah ini orang mau Facebookan tapi gak tahu cara mematikan komputer. Saya tanya belajar facebook darimana? ikut temen-temen ke warnet, jawabnya. Baik, mungkin di warnet komputer setelah dipakai tetep menyala. Saya maklumi itu, Oke mungkin memang belum tahu, saatnya sekarang saya mencoba mengajarkannya kembali yang dulu sempat saya tawarkan untuk mengajarinya, tapi adik saya menolaknya kembali. “Gak penting bisa menyalakan/mematikan yang penting bisa facebookan”, tegasnya. Doh bener-bener keblenger nih anak !

PS : Jangan memaksa passion yang kita miliki sekarang untuk diikuti oleh orang lain, biarkan orang tersebut menemukan passionnya sendiri.

Cerita dari adik saya waktu itu yang masih kelas 2 smp, namun Alhamdulillah sekarang adik saya sudah menginjak sma, mungkin pikirannya sudah terbuka untuk mau belajar tentang cara nyalain/matiin pc. #CaseClosed.

Sebenarnya saya tak bermaksud untuk mengungkap kejelekan adik saya atau keluarga saya, cuma yang saya ingin tanyakan apakah kehidupan sekarang benar lebih nyata ‘kerasnya’ daripada zaman dulu? Keras dalam hal perkembangannya, yang bisa membuat orang sulit menerima secara perlahan akibatnya ingin selalu menikmati perkembangan disetiap akhirnya. Bahasa gampangnya ingin selalu update dan ingin cepat melupakan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Mungkin juga dilingkungan rekan-rekan blogger pernah mengalami atau menjumpai kasus yang terjadi pada saya seperti ini?

Apapun yang terjadi pada perkembangan saat ini, khususnya perkembangan teknologi sekarang bisa membuat kita bisa berfikir lebih maju dan tidak sampai melupakan sejarah. Ingat pesan Bung Karno tentang “Jas Merah”! Karena kita bisa hidup sampai sekarang ini sadar atau tidak ya berawal dari sejarah yang membesarkan kita. Sebenarnya inti dari tulisan ini bukan tidak hanya melupakan sejarah saja, tapi lebih kepada sebuah proses hidup yang semakin lama dilupakan. Inginnya instan tanpa adanya sebuah proses.

Kalau kita melihat banyaknya para pengusaha sukses itu dikarenakan mereka sudah melewati banyak proses jatuh bangun yang sangat panjang. Jadi ketika kita datang di sebuah seminar duduk melihat salah seorang pembicara yang mempunyai banyak usaha dan kaya raya, jangan hanya dilihat kondisinya pada saat ini. Tapi coba belajar bagaimana orang ini dulunya bekerja keras hingga sampai bisa menjadi orang sukses. Saya pernah mendengar kalimat seperti ini, jika ingin mencapai SATU tujuan paling tidak kamu harus minimal melakukan DUA atau TIGA langkah untuk mencapainya.

Tulisan ini sebenarnya sebuah pesan yang ingin saya sampaikan pada diri saya sendiri, harapan saya melalui tulisan ini nantinya agar saya selalu ingat atas apa yang pernah saya tulis sekarang. Kita memang dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan zaman tapi jangan sampai mudah terlena dengan nikmatnya perkembangan yang ada sekarang, yang harus dilakukan Keep on the move and always to remember history. Thank’s!

Follow Me @Coffeedarat
My activity : http://fahrurahmad.me

Sumber Gambar : Google


TAGS Motivasi


-

Follow Me

Kolom Komunitas