Belajar Hemat Sejak Dini lalu Berinvestasi

5 Nov 2014

“Bro ngopi yuk..! boleh.. dimana? Disana loh ada tempat nongkrong kopi baru.”

Obrolan saya dengan salah satu teman yang juga hobi ngopi dan nongkrong. Saya sering banget pergi nongkrong hanya buat ngopi kalau pas lagi selo atau pas lagi kepengen apalagi pas udah gajian seminggu bisa 8x Nah lohh. Ya meski gak cuma sekedar ngopi doang sih, kadang seringnya numpang wifi hihihi.

Selain suka kebiasaan ngopi. Tiap gajian, rasa-rasanya dompet ini seakan-akan ingin memuntahkan seluruh isinya. Dalam hati yang gak bisa menolak godaan isi dompet, selalu meng-iyakan untuk beli ini beli itu banyak sekali(mendadak kangen doraemon).

Setelah berbagai macam keinginan yang semakin lamamenggerogoti nyawa dompet, akhirnya saya mulai kelabakan ketika awal bulan (iya awal bulan, karena gajian di akhir bulan). Kok masih awal bulan dompet sudah kering kerontang kayak badan#ngaca. Nah dari sini saya mulai sadar. Umur jalan terus, gajian gak pernah telat. Tapi kok malah kebanyakan hutang. Boro-boro bisa nabung. Asal bisa makan sampai akhir bulan sebelum gajian itu udah bersyukur banget. Itupun hasil ngumpulin dari uang sabetan. Meski hanya makan di warungnasi kucing terusan.

Sadar Diri

Dengan gaya hidup yang gali lobang tutup lobang. Seneng diakhir bulan, gigit jari di awal bulan, nyari pinjeman di pertengahan bulan. Ternyata jelas sangat tidak sehat bagi keuangan saya. Mau gak mau saya harus bisa memulihkan kondisi keuangan saya. Dengan cara apa?

- Mengurangi aktifitas ngopi tiap malam

- Beli barang yang sekiranya penting bukan karena ingin

- Mengurangi jumlah lauk ketika makan, dua lauk cukup. 3 lauk gak bikin kenyang tapi nambah pengeluaran.

- Mulai belajar untuk berinvestasi

Apa? pelit?

Jadi gini, tahu bedanya irit sama pelit? Kalau saya sendiri sih gak tahu makannya tanya :D

Jelas banget dengan apa yang saya lakukan diatas itu kadang beberapa teman mengatakan, Ahhh dasar pelit. Buat diri sendiri aja pelit apalagi buat orang lain.“Ya! gw pelit. Terus mau apa? Lo, mau ngasih uang jajan buat gw selama sebulan kedepan? Iya??..mau??”*ngomong sama tembok*.

Yang jelas, setelah beberapa kali dompet harus kenakanker kemudian perlu diopname. Saya akhirnyaSadar diri untuk tidak terus-terusan belanja sana-sini, memanjakan diri, sampai akhirnya saya nanti punya anak istri, terus punya hutang kembali, bangun usaha sendiri, merugi kemudian mati. Lalu mau apa lagi? Udah gak bisa nglakuin apa-apa lagi kan?

Nah, jadi silahkan kalau mau nyebut saya pelit. Tapi yang jelas saya masih sadar betul kalau uang itu gak akan ada artinya kalau hanya ditimbun saja. Semakin kita pelit maka semakin kita akan merasa kurang! Maka saya tetap tahu kapan waktunya berbagi dan memanjakan diri setelah melakukancheck-up finansial yang mulai saat ini sudah saya lakukan.

Menabung itu penting.

Check-up finansial itu selalu saya lakukan ketika awal gajian. Yang dulunya sering nabung setelah sisa dari jajan. Sekarang saya sisihkan untuk nabung diawal, kemudian mengecek apakah ada hutang yang perlu segera di selesaikan? Jika ada, maka segera saya selesaikan. Jika tidak berarti uang sisa dari tabungan itu adalah uang jajan saya(PS: Jangan dibiasakan berhutang, kalau mau punya uang jajan lebih besar hahaha).

Tabungan saya yang sudah terkumpul rapi dan telah didepositkan di salah satu bank konvensional, ternyata belum bisa menjamin kehidupan saya di masa depan. Loh, kok bisa? Gimana ceritanya? Jadi gini, jika saya menabung tiap bulan misalnya menyisihkan uang sebesar 100ribu selama 12 bulan maka hasilnya 1.200.000. Sedangkan kita gak tahu nantinya apakahdollar akan terus naik atau malah makin tambah naiknya gak ketulungan. Bisa jadi harga air galon isi ulang yang sekarang 4000/galon, bisa jadi satu tahun kemudian menjadi 7000. Itu contoh simpelnya baru air galon, belum harga sebungkus nasi kucing langganan saya, belum juga harga bensin, apalagi harga emas kawin. Nah, kan..terus apa solusinya? Nabung saja ternyata masih belum cukup. Meski penting!

Belajar investasi

Akhir-akhir ini OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sedang gencar-gencarnya bersosialisasi dan mengedukasi masyarakat untuk terus menjaga kondisi finansialnya masing-masing. Entah itu dengan cara asuransi maupun berinvestasi. Kebetulan kemarin saya baru saja mengikuti salah satu event tentang investasi Reksa dana dari Manulife Investment, yang memberikan gambaran perhitungan seberapa banyak kebutuhan dana pada saat nanti. Iya nanti, ketika kita sudah masuk usia senja dan udah gak bisa ngapa-ngapain lagi.

Setelah dihitung-hitung berdasarkan perhitungan diatas. Ternyata uang tabungan saya yang telah saya depositkan belum bisa membantu banyak. Dengan melihat perhitungan-perhitungan yang semakinnjelimet tersebut malah membuat saya makin was-was terhadap kodisifinansial saya nantinya, jika nilai uang akhirnya terkena dampak inflasi.

Investasi Reksa dana Manulife

Waktu mengikutievent tersebut, dari pihak Manulife Investment memberikan gambaran tentang investasi Reksa dana itu seperti membeli rujak. Modal sedikit, namun bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan kita.

Kalau saya tuliskan secara ringkas, kelebihan dari investasi Reksa dana Manulife diantaranya :

1. Modal 100ribu sudah bisa investasi, bermacam-macam instrument pula.

2. Dikelola oleh Manajer investasi. Sudah jelas kalau sekelas manajer pasti ahli dong. Harusnya :D

3. Tidak perlu terus memantau pergerakan nilai investasi sekarang, karena semuanya sudah dikerjakan oleh Manajer investasi.

4. Pengelolaan dana investasi aman. Reksa dana di kelola oleh Manajer investasi dan Bank Kustodian, keduanya di monitor dan ditengahi langsung oleh pihak OJK.

Ya, itu beberapa keuntungan jika memilih untuk Investasi Reksa dana. Dengan nilai modal investasi yang kecil tapi pada akhirnya kita bisa mempunyai keuntungan yang lebih besar dari hanya sekedar menabung saja. Jika menabung, tentu nominalnya seperti yang sudah saya gambarkan diatas, kalau 100ribu x 12 bulan = 1.200.000. Tapi kalau investasi bisa jadi lebih dari itu. Kenapa nilainya tidak pasti? Iya namanya juga investasi. Harapannya pasti akan memperoleh keuntungan, tapi tak selamanya demikian. Contohnya begini, kalau kita punya rumah kemudian dijadikan tempat kos-kosan, pasti tiap bulan itu akan mendapatkan penghasilan bukan? Namun jika tidak ada yang kos di rumah kita, apakah akan mendapatkan penghasilan juga? Nah rumah itu adalah contoh bentuk instrumen investasi kita. Kurang lebih demikian gambarannya.

Berhubung saya juga masih perlu banyak belajar lagi mengenai Investasi Reksa dana. Jadi belum bisa menjelaskan secara gambalang lebih jauh lagi mengenai investasi Reksa dana Manulife Aset Manajemen ini. Kalau tertarik untuk berinvestasi Reksa dana, silahkan bisa tanya-tanya langsung dengan yang bersangkutan.

PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia
Call Center:(021) 2555 22 55
Website :www.reksadana-manulife.com
Twitter :@manulifeRD

Nah, berinvestasi itu piihan, tapi menabung itu kewajiban (menurut saya). Namun perlu diketahui kondisi keuangan yang kita miliki nantinya belum bisa jadi jaminan. Jadi, silahkan pilih sesuai hati nurani kalian :D


TAGS investasi investasi reksa dana manulife investment


-

Follow Me

Kolom Komunitas