Sudah Efektifkah Penggunaan E-money di Indonesia?

20 Jan 2015

Hidup makin mudah dengan adanya teknologi, semua bisa dimanfaatkan dan sangat membantu pekerjaan manusia itu sendiri. Teknologi seakan-akan seperti sebuah prajurit yang sigap bertindak dan tunduk pada tuannya tanpa harus menunggu perintah terlebih dahulu dia sudah sangat mengerti apa yang diinginkan tuannya tersebut.

Teknologi terus berevolusi, dulunya komputer yang ukurannya segede lapangan football sampai komputer yang bisa masuk kantong. Atau handphone yang dulunya mempunyai antena sepanjang belalai gajah hingga handphone yang tanpa tombol sama sekali, semuanya telah berubah seiring kemajuan zaman.

Sayapun masih ingat dulu ketika pertama kali kenal dengan internet yaitu pada tahun 2006, dimana waktu itu biaya internet per jam nya masih 6000 rupiah. Namun sekarang, dengan uang 5000 rupiah saja sudah bisa dibuat ngenet 24 jam nonstop dan sudah pasti kecepatannya jauh lebih baik.

Memang kalau ngomongin soal teknlogi gak bakalan ada habisnya. Kita beli gadget sekarang besok sudah muncul teknologi baru lainnya yang jauh lebih canggih dari yang sudah kita beli. Dan begitu seterusnya.

Sejalan dengan teknologi yang terus berkembang, Bank Indonesia mempunyai kebijakan untuk memasyarakatkan penggunaan e-money (uang elektronik). Ini memang bukanlah berita baru, namun sepertinya masih banyak yang belum tahu tentang adanya program e-money ini. Dari berbagi sumber yang saya ketahui, ada beberapa alasan mengapa masyarakat diarahkan untuk menggunakan e-money dalam melakukan transaksi. Selain karena lebih praktis dan mudah dalam bertransaksi digital maupun belanja di minimarket, disamping itu juga tentunya BI tidak perlu mengeluarkan dana triliunan setiap tahunnya untuk melakukan pencetakan uang.

Kurangnya sosialisasi

Saya sebagai pengguna atau konsumen ingin juga merasakan bagaimana mudahnya dalam penggunaan e-money ini secara langsung. Beberapa waktu lalu saya juga sempat menuliskan cerita tentang penggunaan e-money untuk pembayaran di gerbang tol. Selengkapnya bisa baca di artikel Nyobain GTO dengan E-money.

Pada artikel tersebut saya bercerita tentang bagaimana mudahnya penggunaan e-money ketika melewati gerbang tol. Dimana pengguna jalan tol yang mempunyai e-toll card atau e-money card yang mendukung pembayaran di toll tersebut cukup menempelkan kartunya ke sebuah mesin yang tersedia. Lalu sistem akan secara otomatis akan memotong saldo e-money card yang kita miliki. Lebih simpel jika dibandingkan kita harus melakukan pembayaran secara tunai kepada petugas penjaga tol. Terlihat sangat nyata manfaatnya bukan, satu kata dari saya, cepat!. Ya, transaksi menggunakan e-money jauh lebih cepat.

Namun beberapa hari yang lalu saya mencoba menggunakan e-money untuk berbelanja di sebuah minimarket ternama. Namun sayangnya mbak-mbak dan mas-mas nya penjual di minimarket tersebut malah tidak tahu dan menganggap sistem pembayaran tersebut tidak tersedia di sana. Entah karena mereka beneran tidak tahu atau tidak mengerti cara penggunaannya. Atau memang sosialisasi kepada karyawan pada merchant terkait yang belum maksimal? Padahal sebelumnya saya sudah memastikan kepada perusahaan penyedia produk e-money tersebut mana saja merchant-merchant yang sudah bekerja sama. Salah satunya ya di minimarket yang waktu itu saya kunjungin.

E-money di Indonesia punya masa depan cerah

Sebelum saya menuliskan artikel ini saya juga telah membaca beberapa artikel sebelumnya tentang penggunaan e-money ini di Indonesia. Salah satunya dari artikel Tech in Asia, yang menyebutkan bahwa penggunaan e-money di Indonesia terus meningkat dan diprediksi akan mempunyai masa depan yang cerah. Grafik pertumbuhannya bisa dilihat melalui gambar yang saya ambil dari artikel techinasia disini.

Dari data diatas menyebutkan bahwa total nilai transaksi e-money di tahun 2013 mencapai Rp 6,7 miliar per hari atau Rp 2 triliun per tahun. Sementara total nilai transaksi di Indonesia adalah Rp 260 triliun per tahun.

Jujur saya gak nyangka banget dengan data yang ditampilkan diatas. Karena saya beranggapan bahwa proses regulasi dari transaksi tunai menjadi nontunai (e-money) ini tidak mudah diterima masyarakat. Orang-orang sepertinya masih nyaman dengan penggunaan transaksi secara tunai/fisik.

Banyaknya perusahaan penyedia fasilitas e-money

Program dari Bank Indonesia untuk menekan peredaran uang fisik untuk mengalihkan kepada transaksi non fisik menurut saya bagus. Akan tetapi penerapannya masih kurang, dimana saat ini banyak sekali beberapa perusahaan mewarkan produk e-money nya dengan berbagai macam keunggulannya masing-masing. Ada yang dari Bank konvensional, ada juga yang dari perusahaan telekomunikasi juga meluncurkan e-money.

Terkadang saya sebagai masyarakat biasa malah bingung harus menggunakan produk yang mana. Secara gampangnya mungkin saya akan memilih produk dari perusahaan yang mempunyai banyak merchant. Akan tetapi setelah saya coba sendiri, salah satu merchant yang terhubung dengan perusahaan penyedia e-money tersebut, justru masih belum faham tentang penggunaan e-money tersebut.

Saat ini dalam penggunaan e-money saya pribadi lebih terasa manfaatnya ketika menggunakan transaksi di jalan toll dan juga transaksi di e-commerce. Itupun saya harus menggunakan produk e-money dari dua perusahaan yang berbeda. Satunya dari Bank konvensional satunya lagi berasal dari perusahaan telekomunikasi. Menurut saya sih kalau memang Bank Indonesia menganjurkan masyarakat untuk menggunakan transaksi apapun secara non fisik (e-money) harusnya bisa terus melakukan sosialisasi dan kalau bisa hanya satu perusahaan saja yang bisa mendukung pembayaran secara non fisik, mungkin hanya dari pihak BI saja. Tanpa campur tangan perusahaan lainnya. Kalau secara bisnis saya tentu tidak paham betul mengapa banyak perusahaan yang membuat produk e-money yang sebelumnya sudah dilakukan perusahaan lainnya, Disamping itu masyarakat juga belum tentu menggunakannya, bukannya nanti malah justru membuat rugi perusahaannya tersebut? Entahlah… kalau saya pada posisi masyarakat biasa akan lebih cocok untuk fokus pada satu lembaga yang memang mengurusi masalah transaksi e-money ini, misalnya program e-money ini hanya berasal dari BI saja. Jika itu dilakukan sudah tentu masyarakat akan terbiasa melakukan transaksi dan belanja apapun menggunakan e-money. Just my opinion! So, bagaimana menurut kamu?

activate javascript


TAGS e-money


-

Follow Me

Kolom Komunitas